Senja 27 Oktober

Bismillah..

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apa kabar hari ini guys? Semoga sehat selalu yaa. Nah, kali ini ada sedikit hiburan nih khusus untuk hari special. Happy reading..

Cerpen Senja 27 Oktober

SENJA 27 OKTOBER

Senja membuat banyak orang jatuh hati padanya. Meski eloknya hanya sementara, tapi senja memberi makna bahwa keindahan tak mesti datang lebih awal.

Dan di sinilah awal kisah mereka. Berawal senja dan berakhir dengan senja pula. Lalu, akankah senja yang mempertemukan mereka kembali?

“Permisi mbak, maaf ingin bertanya. Apakah pengambilan reward lomba cerpen dan esai yang ada di Majalah Milenial bisa diambil di sini ya?”tanya seorang gadis dengan setelan rok navy selutut dan blues softblue kepada petugas kasir di salah satu toko buku di mall yang sedang ia kunjungi. 

Petugas kasir yang nampaknya seumuran dengan gadis itu pun mengiyakan. Kemudian sang petugas mempersilakan gadis berambut sebahu itu untuk menunggu sembari ia berjalan menuju ruang staff. Katanya sih ingin memanggilkan manager sekaligus penanggungjawab toko buku ini. Sambil menunggu, gadis tadi melihat-lihat beberapa pernak-pernik lucu di etalase dekat meja kasir.

Sesaat kemudian dari arah yang berlawanan, seorang pria berkemeja garis abu-abu berjalan menghampiri si gadis. “Maaf mbak, ada yang bisa saya bantu?”tanya pria itu ditengah-tengah si gadis yang sedang menikmati pernak-pernik.

“Eh iya Pak.”ucap si gadis yang selanjutnya mengalihkan perhatiannya pada pria itu. Tanpa sadar, pandangan mereka terkunci satu sama lain.

Namun sekian detik setelahnya mereka tersadar, “Eh, maaf maaf” ucap si gadis sedikit terbata sambil menunduk. Si pria pun juga ikut menunduk, merasa tak enak hati. Suasana menjadi sedikit canggung. Tetapi pria itu menyadari sesuatu.

“Emm maaf, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya. Wajahmu tidak asing”.

Mendadak jantung si gadis berdebar, ia mengingat sesuatu meski agak ragu, “Tunggu, Kak Rama ya?”.

Pria itu pun mengangguk dan tersenyum sambil masih mengingat sosok gadis di hadapannya. “Kamu.. Ra.. Raiya? Raisa?”tanya pria itu tak yakin –Pria yang ternyata bernama Rama.

Si gadis tertawa ringan, tampak manis, “Rasya kak”.

Si pria ber-a ria, “Nah, Rasya hehe. Hai Ra, lama ya nggak ketemu”.

Panggilan itu, terdengar kembali di telinga Rasya, jantunya berdentum sekali lagi. Rasya hanya tersenyum. Satu-satunya orang yang memanggilnya dengan suku kata paling depan namanya.

“Oh iya, kamu yang menanyakan perihal reward tadi ya Ra?”tanya Rama kemudian. 

“Ehehe iya kak. Jadi gini, kemarin aku dap..” ucap Rasya seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. 

“Sebentar.” Rama memutus ucapan gadis di hadapannya. “Sorry sorry. Gimana kalau kita ngobrol sambil makan siang di cafe depan?” tawar Rama. 

Rasya terdiam sejenak. “Boleh deh kak. Kebetulan aku lagi pengen choco milk shake nya cafe depan hehe.” Jawab Rasya akhirnya. 

.

“Selamat siang, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu? Eh, mas bos toh. Tumben mas ke cafe. Mau makan, minum, atau kopi mas?” tanya seorang barista yang mungkin seumuran dengan Rasya.

“Loh Arya. Tumben kamu yang jaga. Tito mana?”

“Di dalam mas. Lagi bikin cake dan dessert katanya”. Rama hanya mengangguk. Sepertinya barista itu kenal dekat dengan Rama, mereka nampak akrab. Atau mungkin Rama pelanggan setia di cafe ini.

“Ra, mau pesan apa?” tawar Rama.

“Aku choco milk shake deh satu, toppingnya whipped cream sama choco chips ya kak.”

“Ngga mau pesan makan?” Rama memastikan.

“Ngga usah deh kak, tadi barusan makan kok.”

“Oke deh. Saya coffee milk aja satu ya.”

“Siap mas bos. Silakan ditunggu.”

Rama dan Rasya memilih meja yang terletak di dekat jendela. 
“Ngomong-ngomong, apa kabar Ra? sekarang udah kerja atau lanjut kuliah?” Rama membuka percakapan.

“Aku baik kak. Sekarang lagi magang di Rumah Sakit Medika. Kakak sendiri gimana?” Rasya berusaha menanggapi dengan tenang. 

Percakapan mereka terhenti karena sang barista datang mengantar pesanan mereka. Syukurlah, Rasya bisa sejenak menata diri dan hatinya. Rasya memang suka kagok dan awkward jika bertemu dengan kenalan lama. Eemm atau karena hal lain mungkin?

“Silakan pesanannya mba, mas bos.” Ucap si barista mempersilakan. “Makasih Ar.”

“Terima kasih kak.” Rasya tersenyum pada sang barista sebagai tanda terimakasih.

Sang barista mengangguk tersenyum kemudian meninggalkan meja tempat Rasya dan Rama duduk. “Heheh lanjut ya. Syukurlah, aku baik juga. Dan yaahh sekarang aku kerja di toko buku itu” lanjut Rama.

“Ooh.. sebentar, jangan-jangan kakak yang punya toko buku itu ya? Soalnya tadi pegawai kasirnya bilang mau panggil atasannya.”tanya Rasya penuh selidik. Ia mulai bisa mencair dengan suasana.

“Hahaha bukan, aku jadi manager pemasaran di toko cabang itu.”jawab Rama dengan nada bergurau.

“Waaw, keren ih hehe. Kayaknya baru kemarin deh lihat kakak magang di bagian administrasi kampus wkwk” ucap Rasya sembari tertawa kecil.

......
Sedikit bernostalgia. Rasya dan Rama, mereka bertemu di acara lomba presentasi esai di kampus mereka beberapa tahun lalu. Tidak ada perkenalan resmi diantara keduannya. Mereka saling mengenal yaa mengalir begitu saja, saling mengetahui nama satu sama lain dari tulisan yang tertera pada layar proyektor.

Rama adalah mahasiswa angkatan dua tahun di atas Rasya. Tak ada ekspektasi apapun. Hanya saja Rasya memang mengagumi Rama sejak mereka bertemu di acara lomba esai itu. Bukan apa-apa, ia hanya mengagumi kemahiran Rama dalam hal ide dan public speaking nya, itu saja  wkwk. Bagaimana dengan Rama? Entahlah. Rama hanya mengingat wajah Rasya saja, yang kemudian tak disangka keduanya bertemu kembali setelah pertemuan pertama di lomba esai sore itu. 

Entah bagaimana, selanjutnya mereka lebih sering bertemu. Lebih tepatnya karena Rama mendapat tempat magang di bagian administrasi di fakultas Rasya. Mulai dari bertemu di kantor tata usaha, Rama yang membantu Rasya saat mengalami kesulitan administrasi kampus, pernah juga tak sengaja bertemu di pinggir jalan saat motor Rasya mogok lalu Rama membantunya, dan pertemuan-pertemuan lain yang kadang terjadi tak sengaja. 

Saat sore itu juga, menjelang hari kelulusan Rasya,  ia terakhir kali melihat Rama di koridor depan kampus mereka.
.....

 “Oiya kak, ini lembar untuk syarat pengambilan reward yang tadi”, Rasya menyerahkan selembar kertas yang tadinya ia ingin serahkan pada Rama saat di toko buku.

“Eh iya, sampai kelupaan mau bahas rewardnya”. Rama sembari membaca kertas yang disodorkan Rasya.

 “Tunggu. Ra, ini bener kamu tulis jadi admin dari blog celotehrara.com kah? “

“Hehe iya, bener kok kak itu blog aku. Yaa lagi belajar juga sih, baru satu setengah tahun lah main di blog. Kak Rama main di blog juga kah?”

Rama tersenyum. “Emm yaa bisa dibilang gitu. Oiya, ngomong-ngomong aku kaget loh ternyata kamu pemilik akun blog celotehrara. Itu termasuk salah satu blog yang sering aku tunggu update kontennya." ucap Rama gembira.

"Oh iya? Waaw." Rasya tertawa, eemm sedikit canggung? Tapi ada rasa senang juga.

" Eh tunggu deh. Ada satu akun yang sering banget kasih komen di postingan aku, nama akunnya cupcoffee. Jangan bilang itu punya kak Rama ya?" tanya Rasya penuh selidik.

"Hehe, iya Ra." jawab Rama sambil memperlihatkan deretan giginya.

"Waah.. ternyata dunia ini sempit sekali." ucap Rasya masih tidak percaya bahwa sebenarnya dirinya dan Rama sudah lama berinteraksi meskipun melalui media maya.

"Iya juga ya, ngga nyangka. Oiya, kapan-kapan kita collab yuk di blog. Seru tuh pasti" celetuk Rama tiba-tiba.

"Eh, boleh juga kak. Besok kita bicarain lagi ya." Rama mengacungkan jempolnya. 

“Ngomong-ngomong kamu masih suka pergi-pergi sendiri ya Ra? Awas loh nanti ilang.”ujar Rama bergurau. Haha pria ini memang suka hawa-hawa humor, usil pula. 

Yap, dulu Rama sering sekali memergoki Rasya yang berjalan sendirian, ke kantin, ke tempat fotokopian, ke perpustakaan juga sendirian.

“Eung? Engga lah kak, aku kesini bareng sama sahabat aku kok”. Sedetik kemudian Rasya teringat sesuatu. “Oiyaa..Vinaa!” pekik Rasya. Akhirnya, ia mengingat sahabatnya itu.

“Hei, ada apa?”Rama ikut terkejut.

“Aduuhh, kok bisa lupa sih. Tadi itu aku kesini bareng sahabat aku, Vina namanya. Tapi tadi kami berpisah, Vina harus beli sesuatu buat mamanya di lantai bawah mall. Trus kita sepakat ketemu lagi di lobi setelah selesai urusan masing-masing.” Rasya menjelaskan, sedikit panik.

“Oke oke, slow. Sekarang kamu kabari temen kamu itu. Kalian ketemu di cafe ini aja.”ucap Rama memberi saran. Segeralah Rasya mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Vina. Rama yang menyaksikan hal itu hanya tersenyum “Gadis ini, masih aja panikan.” batinnya.

Beberapa saat kemudian, “Ra, suka banget coklat ya?”tanya Rama tiba-tiba.

“Eheehe iya kak. Kebetulan juga cafe ini salah satu yang coklatnya enak menurutku.” Rama hanya mengangguk-angguk dan Rasya sudah sedikit tenang setelah mengirim kabar kepada Vina.

“Kakak sendiri kayaknya akrab banget sama baristanya. Teman kah?”tanya Rasya penasaran.

“Ya pasti kenal atuh mba, kan bosnya. Masa mas bos ngga kenal sama pegawainya.” tiba-tiba si barista tadi yang menyahut sambil membersihkan meja di seberang meja Rasya dan Rama. Tak sengaja ia mendengar percakapan mereka.

“Waaw, satu fakta yang mengejutkan lagi. Keren banget sih kak. Udah jadi manager, punya cafe pula" ujar Rasya kagum pada pria di hadapannya.

Cling~
Tanda pesan masuk dari ponsel Rasya. Ternyata Vina sudah menunggunya di lobi mall. 
"Maaf kak. Vina udah nunggu di lobi nih. Aku balik ke tempat tadi dulu ya. Makasih kak atas obrolannya hari ini, makasih juga udah ditraktir hehe." Rasya beranjak dari kursinya, berjalan menuju pintu keluar cafe. Rama pun mengantarnya sampai depan.

Rama teringat sesuatu, "Oiya Ra, selamat hari blogger nasional ya. Semangat terus nulisnya, jangan berhenti menebar manfaat. Aku suka tulisan-tulisan kamu." ucap Rama sungguh-sungguh sembari tersenum, tulus dari hatinya. 

Rasya yang mendengarnya sedikit terkejut, namun kemudian hatinya menghangat disertai ada sengatan semangat yang entah datang dari mana. Sungguh, ucapan Rama barusan membuat dirinya bangga dan rasa percaya dirinya kembali lagi.
"Hehe iya kak, siap. Kakak juga semangat ya. Jangan lupa, tadi katanya mau ngajakin collab di blog" ucap Rasya diselingi nada bercanda.

"Siap bu boss." jawab Rama sedikit ditekan tanda semangat, tak sengaja mengusap lembut puncak kepala Rasya. 

Rasya mencoba biasa saja. "Yaudah, Rasya pamit ya, sampai ketemu lagi kak." 

"Oke, hati-hati Ra.." mereka saling melambaikan tangan.

Bagaimana takdir mereka berikutnya? Akankah lebih banyak kesempatan untuk mereka? Biarkan Sang Pemilik Waktu yang mengatur skenarionya. Namun jika memang jarak harus kembali ada, tak apa. Karena sesungguhnya pertemuan pasti akan menemukan jalannya. Jalan yang tak pernah dikira oleh akal manusia. Pun jikalau awalnya mereka memang harus dipisahkan, tapi Sang Pemilik Takdir punya berjuta kejutan dan cara dalam menyatukannya kembali. 

.
Waaaw, wkwk. Gimana guys ceritanya? Hehe semoga bisa menghibur yaa. Sekali lagi, Selamat Hari Blogger Nasional untuk seluruh teman-teman blogger di Indonesia. Semangat menebar tawa, inspirasi dan kebaikan melalui tulisan. Sampai jumpa di cerita berikutnya..

Hari Blogger Nasional 27 Oktober 2020


Comments